Kaprodi Kewirausahaan FEB UNJA Hadirkan Ade Oktarino, Kupas Responsible AI untuk Penulisan Akademik
- account_circle redaksibulletin27.com
- calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
- visibility 57
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBI, Bulletin27.com – Artificial Intelligence (AI) kini semakin dekat dengan dunia kampus. Dari mencari ide, menelusuri literatur, menyusun kerangka tulisan hingga membantu menganalisis informasi, AI menawarkan banyak kemudahan bagi dosen, mahasiswa, dan peneliti. Namun, di balik kemudahan tersebut muncul pertanyaan penting, bagaimana menggunakan AI tanpa kehilangan nalar kritis dan integritas akademik?
Pertanyaan itulah yang menjadi salah satu fokus dalam Workshop dan Pelatihan Integrasi AI dalam Penulisan Akademik untuk Meningkatkan Kualitas Karya Ilmiah secara Etis dan Sistematis yang diselenggarakan Program Studi Kewirausahaan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi (FEB UNJA), Senin, 7 September 2026.
Bertempat di Laboratorium Komputer Gedung Baru FEB Universitas Jambi, kegiatan tersebut menghadirkan Assoc. Prof. Dr. Ade Oktarino, S.Kom., M.S.I., dosen Universitas Adiwangsa Jambi, sebagai narasumber utama.
Kaprodi Kewirausahaan: AI Harus Memperkuat Kualitas Akademik
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Ketua Program Studi Kewirausahaan FEB Universitas Jambi, Prof. Dr. Rike Setiawati, S.E., M.M.
Sebagai penyelenggara, Program Studi Kewirausahaan FEB UNJA memandang perkembangan AI sebagai sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari transformasi pendidikan tinggi. Karena itu, dosen dan mahasiswa perlu dibekali bukan hanya kemampuan menggunakan berbagai platform AI, tetapi juga pemahaman mengenai etika dan tanggung jawab akademik dalam pemanfaatannya.
Dalam pembukaan kegiatan, Prof. Rike menekankan pentingnya kesiapan sivitas akademika menghadapi perubahan teknologi yang berlangsung cepat. Pemanfaatan AI diharapkan tidak berhenti pada kemampuan teknis, tetapi benar-benar dapat mendukung peningkatan mutu pembelajaran, penelitian, dan publikasi ilmiah.
Ia juga berharap workshop tersebut dapat memberikan pengalaman praktis kepada peserta sehingga AI dapat digunakan secara cerdas, kritis, etis, dan bertanggung jawab, khususnya dalam mendukung proses penulisan akademik.

Harapan lainnya adalah agar dosen dan mahasiswa semakin mampu memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas tanpa mengabaikan orisinalitas, validitas sumber, transparansi, dan integritas akademik.
Ade Oktarino: AI Bukan Mesin Pembuat Skripsi
Memasuki sesi utama, Assoc. Prof. Dr. Ade Oktarino, S.Kom., M.Si. mengajak peserta melihat AI dari perspektif yang lebih kritis.
Menurutnya, kesalahan yang cukup sering terjadi saat ini adalah menempatkan AI semata-mata sebagai alat untuk mempercepat penyelesaian pekerjaan akademik.
Padahal, pemanfaatan AI dalam penelitian seharusnya bergerak lebih jauh: membantu manusia berpikir lebih sistematis, menemukan bukti yang lebih baik, mengevaluasi informasi, dan meningkatkan kualitas pengambilan keputusan ilmiah.
Pesan utama yang dibawanya dalam workshop tersebut sederhana tetapi tegas:
“AI untuk riset yang lebih baik, bukan lebih cepat saja.”
Ade menjelaskan, AI dapat membantu peneliti pada berbagai tahap, mulai dari eksplorasi topik, pencarian literatur, pemetaan konsep, pengembangan pertanyaan penelitian, penyusunan kerangka tulisan hingga pemeriksaan dan evaluasi informasi.
Namun, seluruh proses tersebut tetap harus berada di bawah kontrol manusia.
“Responsible AI” menjadi kata kunci. Peneliti tidak boleh begitu saja menerima jawaban AI sebagai kebenaran ilmiah. Sumber harus diperiksa, referensi harus diverifikasi, argumentasi harus dikritisi, dan keputusan akademik tetap menjadi tanggung jawab penulis.
Dari Generative AI hingga Agentic AI
Workshop juga mengajak peserta memahami perkembangan kecerdasan buatan secara lebih luas.
Ade Oktarino menguraikan evolusi teknologi AI, mulai dari rule-based AI, perkembangan pembelajaran mesin, Generative AI, Reasoning AI, hingga Agentic AI yang kini semakin berkembang.
Pemahaman tersebut dinilai penting karena perubahan AI tidak lagi hanya berkaitan dengan kemampuan mesin menghasilkan teks atau gambar. Teknologi AI berkembang menuju sistem yang semakin mampu melakukan penalaran, mengorganisasi pekerjaan, dan menyelesaikan serangkaian tugas secara lebih mandiri.
Di tengah perkembangan tersebut, kemampuan pengguna untuk memberikan instruksi yang baik sekaligus melakukan kontrol menjadi semakin penting.
Kenalkan Academic Prompting Framework
Salah satu bagian yang menarik perhatian peserta adalah pembahasan mengenai Academic Prompting Framework (R–C–T–F–V).
Kerangka ini diperkenalkan sebagai cara membantu pengguna membangun instruksi kepada AI secara lebih sistematis dalam konteks akademik.
Peserta diajak memahami bahwa kualitas respons AI sangat dipengaruhi oleh kualitas instruksi yang diberikan. Karena itu, penggunaan AI untuk kepentingan akademik tidak cukup hanya dengan mengetik satu atau dua kalimat pertanyaan.
Prompt perlu memiliki peran yang jelas, konteks yang cukup, tugas yang spesifik, format keluaran yang diinginkan, serta tahapan verifikasi.
Dengan pendekatan tersebut, AI dapat ditempatkan sebagai alat bantu intelektual, bukan sebagai pengganti peneliti.
Bongkar Praktik Pencarian Literatur Berbasis AI
Tidak berhenti pada teori, workshop juga membahas pemanfaatan berbagai AI tools untuk literature discovery dan evidence verification.
Peserta diperkenalkan dengan bagaimana AI dapat membantu mempercepat proses menemukan artikel yang relevan, memetakan perkembangan penelitian, hingga membantu mengidentifikasi hubungan antara teori dan temuan terdahulu.
Namun, Ade kembali memberikan penekanan penting: referensi yang ditampilkan AI harus kembali diperiksa pada sumber aslinya.
Hal ini penting karena sistem AI masih dapat menghasilkan informasi yang tampak meyakinkan tetapi tidak akurat, termasuk fenomena yang dikenal sebagai AI hallucination.
Karena itu, kemampuan melakukan critical AI audit and verification menjadi salah satu kompetensi yang perlu dimiliki peneliti masa kini.
AI Harus Membuat Peneliti Lebih Kritis
Melalui praktik AI-Assisted Research Workflow, peserta diperlihatkan bagaimana teknologi dapat digunakan pada berbagai tahap penelitian secara lebih terstruktur.
Namun, pemanfaatan AI tidak dimaksudkan untuk mengurangi peran peneliti.
Justru sebaliknya, semakin canggih AI, semakin dibutuhkan kemampuan manusia dalam menilai kualitas informasi, membedakan sumber kredibel dan tidak kredibel, membaca konteks, serta mempertanggungjawabkan hasil penelitian.
Dengan demikian, penggunaan AI dalam pendidikan tinggi tidak boleh berakhir pada fenomena copy-paste jawaban mesin. AI harus menjadi instrumen yang mendorong mahasiswa dan peneliti untuk bekerja lebih sistematis dan berpikir lebih kritis.

Dari Ide Menuju Dampak Nyata
Workshop yang digelar Program Studi Kewirausahaan FEB UNJA tersebut tidak hanya relevan dalam konteks penulisan karya ilmiah, tetapi juga sejalan dengan kebutuhan pendidikan kewirausahaan yang semakin dekat dengan teknologi, inovasi, dan pengambilan keputusan berbasis data.
Kegiatan ini turut mengusung semangat “Dari Ide Menuju Dampak Nyata” serta “Responsible AI for Better Research.”
Peserta diharapkan setelah mengikuti kegiatan tidak sekadar mengetahui cara menggunakan ChatGPT maupun berbagai aplikasi berbasis AI lainnya, tetapi mampu memilih alat yang tepat, menyusun prompt akademik secara sistematis, melakukan pencarian literatur, memverifikasi bukti, serta melakukan audit kritis terhadap keluaran AI.
Lebih jauh, kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat budaya akademik yang tetap mengedepankan kejujuran ilmiah, kreativitas, kolaborasi, dan tanggung jawab peneliti.
Kolaborasi Program Studi Kewirausahaan FEB UNJA di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Rike Setiawati, S.E., M.M. dengan Assoc. Prof. Dr. Ade Oktarino, S.Kom., M.Si. sebagai narasumber menjadi bagian dari upaya membangun kesiapan sivitas akademika menghadapi perubahan ekosistem pendidikan tinggi di era kecerdasan buatan.
Pada akhirnya, pesan dari workshop tersebut cukup jelas: masa depan akademik bukan tentang memilih antara manusia atau AI, melainkan bagaimana manusia tetap memegang kendali atas AI.
Teknologi boleh berubah dengan cepat, tetapi nalar kritis, etika, dan integritas ilmiah tidak boleh ikut diotomatisasi.
- Penulis: redaksibulletin27.com

